Ayat-Ayat Emas

« »

Kamis, 17 November 2011

Riwayat Nabi Kong Zi 孔子 - Awal Karir Kong Zi

Pernikahan
Dari masa sekolah sampai menjelang dewasa tidak banyak kejadian penting yang dapat diceritakan. Hanya kita ketahui, beliau telah teguh semangat belajar waktu usia 15 tahun dan ketika berusia 17 tahun terpaksa meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja demi meringankan beban ibunda.

Ketika beliau berusia 19 tahun, sesuai dengan adat jaman itu, beliau dinikahkan dengan seorang gadis dari keluarga Kian-kwan dari negeri Song.
Pernikahan ini hanya dirayakan secara sederhana; hari yang penting itu tidak disuasanai kemeriahan pesta melainkan suasana rohani yang suci dan khidmat mengantarnya; disucikan dan diteguhkan dengan melakukan ibadah besar kepada THIAN, Tuhan Yang Maha Besar dan kepada arwah leluhur.

“Bila tiada keselarasan antara langit dan bumi, takkan tumbuh segenap kehidupan. Upacara pernikahan ialah pangkal peradaban sepanjang jaman, Dia bermaksud memadukan dan mengembangkan benih kebajikan dua jenis manusia yang berlain keluarga untuk melanjutkan Ajaran Suci pada Nabi, ke atas untuk memuliakan Firman THIAN, mengabdi leluhur dan ke bawah meneruskan keturunan.” (Lee Ki: XXVII).

=================
Kelahiran Pik Gi

 Pernikahan Nabi Khongcu itu ternyata membawa karunia besar bagi keluarga Khong. Setahun kemudian lahirlah seorang putera laki-laki tunggal beliau; putera ini diberi nama ‘Li’ alias ‘Pik Gi’.


Nama Li yang berarti ‘Ikan Gurami’ diberikan sebagai peringatan pemberian seekor ikan gurami dari Lo Ciau Kong, Raja muda Negeri Lo, tatkala tiba saat upacara genap satu bulan sang bayi. Pik Gi berarti putera pertama yang bernama ‘Ikan’.

Kejadian ini menunjukkan bahwa dalam usia yang masih muda itu Nabi telah banyak dikenal masyarakat sekitarnya.

Pik Gi sekalipun mendapat pendidikan yang baik dari Nabi, nampaknya ia tidak banyak mendapat kemajuan dalam mengikuti jejak ayahnya. Meski demikian tidak berarti Pik Gi tidak berperanan dalam perkembangan Agama Khonghucu, sebab anaknya yang bernama Khiep alias Cu Su, kelak akan menjadi penerus besar dalam Agama kita; beliaulah yang menulis dan membukukan Kitab Tiong Yong (Tengah Sempurna) yang merupakan Kitab Tuntunan Keimanan kita.

Pik Gi mempunyai dua orang adik perempuan; salah satu di antaranya menjadi isteri Kong-ya Tiang, murid Nabi. (Sabda Suci V: 1).

=================
Menjadi Kepala Dinas Pertanian

Ketika Nabi berusia 20 tahun, untuk menanggung beban rumah tangganya, beliau bekerja pada kepala keluarga bangsawan besar Kwisun.

Oleh Kwi-sun, beliau diberi pekerjaan sebagai kepala dinas pertaniannya. Jabatan ini sesungguhnya kurang sesuai dengan pengetahuan yang beliau miliki; meski demikian beliau telah melakukan tugas ini dengan sebaik-baiknya.

Beliau mengawasi seluruh pekerjaan pengumpulan hasil bumi kepala keluarga itu; selalu dijaga jangan sampai ada kecurangan dan pemerasan yang dapat merugikan para petani. Beliau sering beramah-tamah dengan para petani itu sehingga banyak mengetahui suka duka yang ditanggung mereka.

Di dalam pengaturan tata buku, beliau selenggarakan dengan penuh keseksamaan dan tertib. Oleh kebijaksanaanNya, dalam waktu singkat dapat ditertibkan berbagai pekerjaan yang mula-mula tidak beres; dengan demikian dapat dibersihkan dari perkara yang curang.

Beliau berpedoman, “Seorang Kuncu (Susilawan) mengutamakan kepentingan umum, bukan kelompok; seorang rendah budi mengutamakan kelompok, bukan kepentingan umum.” (Sabda Suci II: 14).

=================
Membereskan Dinas Peternakan

Keberhasilan Nabi di dalam membina dinas pertanian menyebabkan beliau diberi kepercayaan pula untuk membereskan dinas peternakan keluarga besar Kwi-sun yang mengalami berbagai kekisruhan.

Tugas baharu ini pun diterima dengan gembira, – memang Nabi seorang yang gembira di dalam kerja -, dengan penuh kesungguhan hati beliau berusaha membenahi berbagai masalah dalam dinas yang baharu ini.

Pembagian tempat penggembalaan diatur baik-baik, demikian pula persediaan makanan ternak untuk musim dingin sangat diperhatikan.

Dalam lapangan yang baru ini beliau juga selalu menaruh perhatian akan nasib para penggembala yang sering menjadi korban penipuan dan pemerasan orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya. Dari pengalaman beliau inilah kelak kita tidak akan heran dan memahami mengapa Nabi selalu menjunjung tinggi kepentingan rakyat.

Dalam waktu yang relatif singkat beliau berhasil pula membereskan dinas peternakan ini; semua pembukuan berjalan lancar, hewan ternak pun subur berbiak dan tambun-tambun.

=================
Pemakaman Jenazah Ayah – Bunda Nabi

Ayah Nabi seperti kita ketahui telah wafat tatkala Nabi baharu berusia tiga tahun; dan pada tahun 525 SM, Ibu Tiencai berpulang, yaitu ketika Nabi berusia 26 tahun.

Karena Nabi masih kanak-kanak tatkala Siok-liang Hut meninggal dunia, maka menurut adat jaman itu, jenazahnya masih dimakamkan di tempat pemakaman sementara di tepi jalan Ngo Hu, yaitu menanti beliau cukup umur untuk melakukan kewajiban pemakaman orang tuanya.

Karena itu, setelah wafat ibunda Tiencai, jenazah kedua orang tua itu dimakamkan bersama-sama di satu tempat di Hong San, Bukit Bentara Sang Sempurna; demikian dinamakan orang-orang kemudian.

Disitulah tempat istirahat kedua orang yang memunculkan Sang Nabi, Pendidik dan Pelopor kemanusiaan dalam menegakkan Firman Gemilang itu untuk selama-lamanya. Salam, ketenteraman dan kedamaian yang abadi semoga menyertai mereka.

“Hati-hati saat orang tua meninggal dan jangan lupa memperingatinya sekalipun telah jauh. Dengan demikian akan menebalkan Kebajikan.” (Sabda Suci I: 9).

=================
Menjadi Guru

Karena peristiwa wafat Ibunda Tiencai, Nabi Khongcu meletakkan jabatan untuk melaksanakan kewajiban berkabung. Masa ini digunakan untuk lebih memperdalam pengetahuan.

Baharu  setelah lewat masa berkabung, 27 bulan kemudian, beliau mulai aktif kembali dalam pekerjaan. Sesudah usai upacara sembahyang besar Tai Siang sebagai penutup masa berkabung, besoknya diambillah alat musiknya, namun baharu beberapa hari kemudian beliau dapat mengiringinya dengan nyanyian.

Ketika itu, ternyata nama beliau sudah banyak dikenal; banyak orang-orang terpelajar dan para muda datang kepadaNya memohon nasehat dan berguru. Buah fikirannya menunjukkan pengalaman hidup yang masak dan penuh kebijaksanaan.

Waktu beliau berusia 30 tahun, telah teguh pendiriannya; penuh semangat dan tekad untuk menolong dunia yang ingkar dari Jalan Suci itu. Ketika beberapa sahabat mencoba mencegahNya, Nabi bersabda, “Janganlah membujuk Aku melepaskan cita. Aku hendak mengabdikan diriku bagi semua, sebab sesungguhnya semua manusia itu sekeluarga adanya, dan Thian, Tuhan Yang Maha Esa menugaskan diriku membimbingnya. Usiaku sudah tiga puluh tahun, kemauanku sudah teguh, badanku pun sedang sehat-sehatnya; Aku insaf benar apa yang akan kulakukan.”

2 komentar: